oleh

Asas Budaya Sunda dalam Pilkades

Oleh : Wahyudi Arif, S.Th.I (Ketua BPD Gunungdatar)

SILIH ASIH  , Silih Asah, dan Silih Asuh “ Setiap orang sunda pasti tahu tentang tiga dimensi dasar budaya sunda yang disebutkan di atas, sebagai pedoman hidup saling menghargai sesama, ramah senyum, sopan kepada siapa saja termasuk kepada orang yang belum dikenalnya. Seperti istilah “kawas gula eujang peueut” yang memiliki arti hidup harus rukun saling menyayangi, tidak pernah berselisih. Ungkap Wahyudi Arif Selasa,(15/06/21)

Wahyudi menyampaikan, Pelaksanaan Pilkades serantak di kabupaten Pandeglang segera digelar pada tanggal 18 Juli 2021, para calon kepala desa dan tim suksesnya sudah jauh-jauh hari mengadakan pendekatan kepada masyarakat dengan berbagai cara, dari menghadiri acara pengajian sampai menghadiri ke pesta perkawinan, dimana ada moment keramaian disitu calon kepala desa berusaha untuk mempublikasikan dirinya.

Proses demokrasi tingkat bawah di Indonesia ini, kerapkali diketemukan cara-cara tidak terpuji mengarah pada perpecahan ditengah masyarakat. Tak jarang satu keluarga tidak berkomunikasi hanya karena beda pilihan dalam pilkades.

BACA JUGA :  Ayo Kita Selalu Optimis dan Berserah Diri

Sejatinya pilkades dijadikan ajang kesempatan memilih pemimpin yang memiliki pandangan, gagasan visi misi serta trackrecord yang unggul bukan sekedar pesta demokrasi rutinitas setiap akhir masa jabatan kepemimpinan.

Masyarakat sunda terkenal dengan sifatnya yang halus, sopan dan ramah, memiliki logat bicara yang khas sehingga mudah dikenali. Ada tiga dasar budaya sunda yang mungkin masyarakat sekarang lupa yaitu:  Silih Asih yang artinya saling menyayangi dan mengasihi, merupakan salahsatu pandangan orang sunda yang harus dijadikan konsep dasar dalam momen Pilkades. Saling menyayangi dan mengasihi bukan seperti apa yang dibayangkan oleh kaum muda mudi yang sedang berpacaran tetapi tenggang rasa, toleransi dan saling membantu hubungan masyarakat satu sama lain.

Pilkades hanyalah sesaat tapi hubungan antar tetangga selamanya maka seharusnya kita dapat menanamkan jiwa silih asih ketika memang harus berbeda dalam pilihan politik.

Silih Asah, artinya saling mencerdaskan, berlomba-loba dalam kebaikan, mengasah atau menajamkan. Arti menajamkan atau mengasah dalam pandangan tersebut bukan berarti dalam momen pilkades untuk bersetru mengadu kekuatan, siapa yang kuat dia yang menang tetapi mengarah pada pembelajaran kearah yang lebih baik.

BACA JUGA :  Sesal Kemudian Tiada Berguna, Catatan Hendry Ch Bangun

Para calon kepala desa harus berani adu gagasan ide demi tercapainya masyarakat desa yang adil makmur sentosa. Memiliki semangat juang untuk membangun generasi muda berakhlakul karimah (Fastabiqul Khoirat).

Silih Asuh artinya saling membimbing atau mengasuh. Asas inipun dalam agama Islam tercantum dalam surat surat Al ‘Ashr, saling nasehat menasehati dalam kebaikan. Yang tua membimbing yang muda atau sebaliknya.

Dalam moment Pilkades ini perlu dari berbagai elemen tokoh agama, tokoh masyarakat dan element lainya untuk saling mengingatkatkan, saling membimbing menciptakan suasana Pilkades yang damai, aman dan tentram.” Kepala dan hati harus dingin dalam panasnya suasana Pilkades.

Semoga tiga dasar budaya sunda ini bisa dipraktekan dalam suasana panasnya Pilkades oleh masyarakat pemilih, calon kepala desa berikut tim sukses dan para panitia penyelenggara dari berbagai elemen masyarakat sehingga melahirkan pemimpin desa yang amanah adil berintegrasi.” Tutupnya

REPORTER : DONI

banner 300250

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA