Bungas Banten, LEBAK – Ruswa Ilahi selaku Korwil Ormas Badak Banten menyoroti dugaan kurangnya perawatan saluran irigasi Bendungan Cilemer yang menyebabkan saluran pipa beton ambruk, sehingga aliran air menuju area persawahan warga tidak dapat mengalir normal. Akibat kondisi tersebut, ratusan hektar sawah milik petani di wilayah Kabupaten Lebak dan Kabupaten Pandeglang terancam gagal panen.
Ruswa menyampaikan, air dari Bendungan Cilemer yang seharusnya dialirkan untuk kebutuhan irigasi persawahan kini justru mengalir langsung ke Sungai Cimalur akibat rusaknya saluran pipa beton tersebut. Peristiwa itu diketahui terjadi pada Kamis (21/5/2026).
Adapun wilayah yang terdampak di antaranya:
• Desa Cibaturkeusik, Kecamatan Banjarsari,
Kabupaten Lebak
• Desa Kadu Hauk, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Lebak
• Desa Pasir Panjang, Kecamatan Picung, Kabupaten Pandeglang
• Desa Pasir Sedang, Kecamatan Picung, Kabupaten Pandeglang
Akibat tidak mengalirnya pasokan air ke area pertanian, sawah para petani mengalami kekeringan. Warga memperkirakan luas lahan yang terdampak dan terancam gagal panen mencapai kurang lebih 300 hektar.
Menurut keterangan warga, ambruknya saluran pipa beton tersebut diduga berawal dari rusaknya bronjong penahan saluran air sejak tahun 2023. Warga mengaku sudah berulang kali mengadukan kondisi tersebut kepada petugas irigasi agar segera dilakukan perbaikan sebelum seluruh saluran ambruk. Namun hingga saat ini belum ada tindak lanjut nyata dari pihak terkait.
“Sudah sering diadukan sejak lama supaya segera diperbaiki sebelum ambruk semua, tapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut,” ujar salah seorang warga.
Sementara itu, H. Asep selaku Ketua Kelompok Tani Desa Cibaturkeusik menjelaskan kepada wartawan bahwa masyarakat dan kelompok tani berharap pemerintah melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau-Ciujung-Cidurian (BBWS C3) segera melakukan perbaikan drainase Bendungan Cilemer yang ambruk agar aliran air kembali normal dan dapat dimanfaatkan masyarakat sebagaimana mestinya.
Menurutnya, air dari Bendungan Cilemer merupakan sumber utama pengairan areal persawahan sekaligus digunakan untuk kebutuhan sehari-hari masyarakat seperti mencuci, mandi, dan kebutuhan rumah tangga lainnya.
“Keberadaan Bendungan Cilemer sangat vital bagi masyarakat, terutama saat memasuki musim kemarau, karena menjadi penopang utama sektor pertanian warga,” ujar H. Asep.
Ia juga menyebutkan, akibat ambruknya drainase Bendungan Cilemer, sejumlah wilayah mengalami dampak kekeringan, di antaranya Desa Batu Keseuk, Desa Pasir Sedang, serta beberapa desa lain yang selama ini mengandalkan pasokan air dari bendungan tersebut.
Ruswa Ilahi menilai kondisi tersebut harus segera mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah maupun dinas terkait, mengingat dampaknya sangat dirasakan masyarakat petani. Ia berharap Pemerintah Provinsi Banten melalui Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau-Ciujung-Cidurian (BBWS C3) segera turun langsung melakukan penanganan dan perbaikan permanen terhadap saluran irigasi yang rusak.
Selain itu, Ruswa juga mempertanyakan anggaran perawatan Bendungan Cilemer dari tahun 2023 hingga 2026. Pasalnya, berdasarkan informasi yang diperoleh saat melakukan investigasi di lapangan, warga menyebutkan diduga tidak adanya perawatan maksimal terhadap saluran irigasi tersebut sehingga mengakibatkan rusaknya saluran beton pipa air.
“Kami mempertanyakan bagaimana anggaran perawatan dari tahun 2023 sampai 2026. Karena berdasarkan informasi masyarakat saat kami investigasi di lapangan, diduga kurangnya perawatan menyebabkan saluran beton pipa air mengalami kerusakan hingga akhirnya ambruk,” tegas Ruswa Ilahi.
Warga juga menyebutkan bahwa hingga saat ini belum ada pihak terkait yang turun langsung untuk melihat kondisi kerusakan saluran irigasi tersebut.
Masyarakat berharap pemerintah dan dinas terkait segera turun tangan melakukan perbaikan saluran air yang ambruk agar pasokan air kembali mengalir ke area persawahan warga. Selain itu, warga meminta adanya perhatian serius terhadap perawatan infrastruktur irigasi agar kejadian serupa tidak terus berulang dan merugikan para petani.
Sementara itu, Dedi Yudha Lesmana ST MT selaku Kepala BBWS Cidanau-Ciujung-Cidurian Provinsi Banten saat dikonfirmasi terkait kondisi ambruknya saluran irigasi Bendungan Cilemer serta dugaan kurangnya perawatan, belum memberikan jawaban maupun tanggapan resmi. Hingga berita ini diterbitkan, tim media masih terus berupaya melakukan konfirmasi kepada pihak-pihak terkait guna memperoleh keterangan lebih lanjut sebagai bentuk keberimbangan informasi.
Rilis ini disampaikan sebagai bentuk penyampaian informasi kepada publik sekaligus untuk keberimbangan informasi terkait kondisi infrastruktur irigasi Bendungan Cilemer yang saat ini dikeluhkan masyarakat.
REPORTER:HJ/TIM







