Padepokan Kisakar Dirgantara, Merawat Tradisi dan Menanam Karakter Generasi Muda di Lebak

Lebak64 Dilihat
Example 1500x60

Bungas Banten, LEBAK – Di tengah derasnya arus perubahan zaman, Padepokan Kisakar Dirgantara di Kampung Angsana, Desa Nameng, Kecamatan Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, hadir sebagai ruang yang berupaya menjaga denyut kebudayaan sekaligus menanamkan nilai-nilai luhur kepada generasi muda.

Didirikan dan dibina oleh Michael, yang juga merupakan Ketua Umum DPP LSM Nusantara Indah Lingkungan (LSM-NIL), padepokan tersebut perlahan tumbuh bukan sekadar sebagai tempat berlatih pencak silat dan seni tradisional, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran karakter, kebersamaan, dan kepedulian sosial bagi anak-anak serta remaja di lingkungan sekitar.

Latihan yang berlangsung secara rutin menjadi bagian dari ikhtiar untuk menjaga agar seni tradisional tetap hidup dan memiliki tempat di tengah kehidupan generasi muda. Dari proses tersebut, para santri dan pendekar muda Padepokan Kisakar Dirgantara mulai mendapat kesempatan tampil dalam berbagai kegiatan dan hajatan masyarakat antarkampung.

Kesenian kendang pencak silat menjadi salah satu ekspresi budaya yang terus dikembangkan. Bagi mereka, setiap gerakan dan irama bukan sekadar pertunjukan, melainkan bagian dari upaya memperkenalkan kembali kekayaan tradisi kepada generasi yang tumbuh di tengah perubahan teknologi dan budaya yang begitu cepat.

Namun, makna keberadaan padepokan tidak berhenti pada pelestarian seni.

Di balik latihan dan berbagai penampilan, terdapat proses pendidikan yang lebih panjang: membentuk kedisiplinan, menumbuhkan rasa hormat, membangun kebersamaan, serta mengajarkan anak-anak untuk memahami arti tanggung jawab terhadap lingkungan sosialnya.

Di tengah kehidupan yang semakin dekat dengan gawai dan ruang digital, keberadaan padepokan menjadi salah satu alternatif ruang tumbuh bagi anak-anak dan remaja. Mereka tidak hanya diajak mengisi waktu dengan kegiatan positif, tetapi juga belajar berinteraksi, bekerja sama, dan menghargai sesama.

Michael mengatakan, perubahan sikap anak-anak di lingkungan tersebut menjadi salah satu hal yang paling berarti dari perjalanan Padepokan Kisakar Dirgantara.

“Alhamdulillah, melihat anak-anak kita di Kampung Angsana kini memiliki adab yang santun dan tidak lagi melulu fokus pada telepon genggam adalah sebuah kebahagiaan yang tidak ternilai bagi saya pribadi. Kebudayaan bukanlah masa lalu yang hanya kita saksikan, melainkan masa depan yang kita bentuk melalui akhlak anak-anak kita hari ini,” ujar Michael, Rabu (30/9/2026).

Menurutnya, pencak silat sejatinya tidak hanya berbicara mengenai kemampuan fisik. Lebih jauh, terdapat nilai pengendalian diri dan penghormatan terhadap orang lain yang menjadi bagian penting dari proses pembelajaran.

“Di padepokan ini, kami belajar bahwa silat bukan tentang siapa yang paling kuat, melainkan bagaimana kita mampu menaklukkan ego, menghormati sesama, dan memberi manfaat bagi lingkungan,” katanya.

Michael menilai, tumbuhnya kembali semangat gotong royong dan kebersamaan di tengah masyarakat merupakan modal penting dalam membangun kehidupan sosial yang harmonis.

Ia berharap Padepokan Kisakar Dirgantara dapat terus berkembang sebagai ruang kebudayaan yang terbuka bagi masyarakat serta mampu menjangkau lebih banyak generasi muda.

“Ketika rasa gotong royong dan guyub mulai tumbuh kembali dalam diri mereka, di situlah nilai Dirgantara menemukan maknanya. Sebuah harapan agar kemanfaatan, budi pekerti, dan kedamaian dapat terus tumbuh dan menjangkau lebih luas,” tuturnya.

Michael juga mengajak berbagai elemen masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap kebudayaan dan pembinaan generasi muda untuk membangun sinergi.

“Kami membuka ruang seluas-luasnya bagi siapa pun yang ingin bersinergi dan belajar bersama demi kebaikan generasi penerus bangsa,” pungkasnya.

Padepokan Kisakar Dirgantara pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang pencak silat, kendang, ataupun pertunjukan seni. Lebih dari itu, ia menjadi ruang tempat tradisi dirawat, kebersamaan dipupuk, dan karakter generasi muda dibentuk.

Sebab, ketika kebudayaan tidak hanya diwariskan melalui pertunjukan, tetapi juga diterjemahkan dalam sikap dan perilaku sehari-hari, di sanalah tradisi menemukan kehidupan yang sesungguhnya.

(Dra)