Regen Abdul Aris Menyapa Warga Padepokan Kisakar Dirgantara, Kepedulian Sosial Berpadu dengan Serapan Aspirasi

Lebak25 Dilihat
Example 1500x60

Bungas Banten, LEBAK – Kepemimpinan tidak semata diukur melalui kebijakan yang dilahirkan, tetapi juga melalui kesediaan untuk hadir, mendengar, dan merasakan langsung denyut kehidupan masyarakat. Nilai tersebut tercermin dalam kunjungan sosial Anggota Komisi III DPRD Kabupaten Lebak dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Regen Abdul Aris, S.E., di Padepokan Kisakar Dirgantara, Kampung Angsana, Desa Nameng, Kecamatan Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten.

Kunjungan yang berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan itu menjadi ruang perjumpaan antara wakil rakyat dan masyarakat. Tidak sekadar mempererat silaturahmi, kegiatan tersebut juga diisi dengan penyaluran bantuan sosial, dialog bersama warga, serta penyampaian aspirasi mengenai kebutuhan sosial dan pelestarian budaya lokal.

Kehadiran Regen Abdul Aris disambut Ketua Umum Lembaga Swadaya Masyarakat Nasional Indonesia Lebih Baik (LSM-NIL) sekaligus pendiri Padepokan Kisakar Dirgantara, Michael, bersama pengurus padepokan, tokoh agama, tokoh masyarakat, pengurus adat, Ketua Karang Taruna Ahmad Tohir, serta warga Kampung Angsana dan sekitarnya.

Kepedulian Sosial yang Menyentuh Langsung Kehidupan Warga

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Regen Abdul Aris menyalurkan bantuan beras sebanyak tiga kuintal yang dikemas dalam paket dua kilogram. Bantuan kebutuhan pokok dan santunan juga diberikan kepada masyarakat, termasuk warga lanjut usia, kaum jompo, dan keluarga kurang mampu.

Penyaluran bantuan secara langsung menjadi bagian dari upaya membangun kedekatan dengan masyarakat sekaligus menghadirkan kepedulian yang dapat dirasakan secara nyata.

Namun, esensi kunjungan tersebut tidak berhenti pada bantuan material. Kebersamaan berlanjut melalui dialog santai bersama warga di saung utama padepokan. Dalam suasana sederhana, mereka duduk bersama, menikmati hidangan secara lesehan, dan membicarakan berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.

Forum informal tersebut membuka ruang komunikasi yang lebih cair bagi tokoh masyarakat, pengurus adat, dan pengelola padepokan untuk menyampaikan aspirasi, terutama mengenai kebutuhan infrastruktur sosial, penguatan kehidupan kemasyarakatan, dan keberlanjutan budaya lokal.

Di tengah suasana kekeluargaan, proses menyerap aspirasi menjadi bagian penting dari kunjungan tersebut. Kehadiran wakil rakyat diharapkan dapat mempertemukan kebutuhan riil masyarakat dengan mekanisme perjuangan aspirasi melalui jalur kelembagaan.

Pencak Silat Menjadi Simbol Pelestarian Identitas Lokal

Nuansa kebudayaan turut mewarnai kegiatan melalui penampilan seni bela diri pencak silat tradisional oleh anak-anak didik Padepokan Kisakar Dirgantara.

Penampilan tersebut tidak hanya menjadi bentuk penghormatan kepada tamu, tetapi juga memperlihatkan peran padepokan dalam menjaga warisan budaya sekaligus membina generasi muda melalui kegiatan yang positif dan berakar pada kearifan lokal.

Regen Abdul Aris memberikan apresiasi kepada para pesilat muda dan membaur bersama masyarakat dalam suasana penuh keakraban. Momen itu menegaskan bahwa kegiatan sosial dan pembangunan kemasyarakatan dapat berjalan beriringan dengan pelestarian tradisi.

Bagi komunitas padepokan, keberlangsungan seni pencak silat bukan semata persoalan mempertahankan pertunjukan tradisional, melainkan juga menjaga nilai kedisiplinan, kebersamaan, dan identitas budaya agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Michael: Kedekatan dengan Masyarakat Harus Bermakna dan Berkelanjutan

Ketua Umum LSM-NIL sekaligus pendiri Padepokan Kisakar Dirgantara, Michael, menyampaikan apresiasi atas kunjungan Regen Abdul Aris. Ia memandang kehadiran langsung seorang anggota legislatif di tengah masyarakat sebagai kesempatan penting untuk membangun komunikasi yang lebih terbuka dan memahami persoalan warga secara lebih dekat.

“Kami mengapresiasi kehadiran Bapak Regen Abdul Aris, S.E., yang telah meluangkan waktu untuk bersilaturahmi, berbagi dengan masyarakat, sekaligus mendengarkan aspirasi warga di Padepokan Kisakar Dirgantara. Bagi kami, kepemimpinan yang bermakna adalah kepemimpinan yang tidak berjarak dengan masyarakat dan memiliki kepekaan terhadap kebutuhan nyata di lapangan,” ujar Michael.

Ia menambahkan, aspirasi yang disampaikan masyarakat perlu dipetakan secara cermat agar dapat menjadi bahan pertimbangan dan diperjuangkan melalui mekanisme yang sesuai dengan kewenangan serta fungsi kelembagaan.

Menurut Michael, sinergi antara unsur legislatif, organisasi masyarakat, tokoh adat, dan komunitas lokal memiliki arti strategis dalam memperkuat ketahanan sosial. Kolaborasi tersebut diperlukan agar pembangunan tidak hanya berorientasi pada infrastruktur fisik, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan budaya dan kualitas kehidupan masyarakat.

“Kemitraan yang sehat harus dibangun di atas komunikasi, keterbukaan, dan komitmen terhadap kepentingan masyarakat. Kami berharap silaturahmi ini menjadi awal dari hubungan yang berkelanjutan, sehingga aspirasi warga, termasuk kebutuhan infrastruktur sosial dan pelestarian budaya, dapat memperoleh perhatian sesuai jalur yang semestinya,” tuturnya.

Ditutup dengan Doa dan Harapan

Menjelang akhir kunjungan, suasana haru menyertai momen perpisahan antara Regen Abdul Aris dan warga. Kedekatan yang terbangun selama kegiatan meninggalkan kesan tersendiri bagi masyarakat yang hadir.

Kegiatan kemudian ditutup dengan doa bersama yang dipimpin tokoh agama setempat, sebagai ungkapan rasa syukur sekaligus harapan agar Regen Abdul Aris senantiasa diberikan kesehatan, keselamatan, dan kelancaran dalam menjalankan amanah sebagai wakil rakyat.

Kunjungan di Padepokan Kisakar Dirgantara menjadi gambaran bahwa ruang pengabdian dapat hadir dalam bentuk sederhana: menyapa masyarakat, berbagi kepedulian, mendengarkan aspirasi, serta menghargai kebudayaan yang tumbuh di tengah kehidupan warga.

Lebih dari sekadar agenda silaturahmi, perjumpaan tersebut diharapkan menjadi jembatan komunikasi yang mempertemukan kepedulian sosial dengan aspirasi masyarakat, demi memperkuat semangat gotong royong dan pembangunan kemasyarakatan yang berkelanjutan di Kabupaten Lebak.

(Dra)