Dari Situs Purbakala hingga Tradisi Baduy, Kekayaan Budaya Lebak Hadir di Museum Multatuli

Lebak21 Dilihat
Example 1500x60

Bungas Banten, LEBAK – Upaya menjaga warisan sejarah dan memperkuat identitas budaya daerah terus diperkuat melalui kolaborasi Museum Multatuli dengan Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Lebak. Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui Pameran Cagar Budaya dan Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) yang berlangsung pada 19–25 Oktober 2026 di Museum Multatuli, Rangkasbitung.

Pameran ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Museum Indonesia dan Hari Kebudayaan, sekaligus memeriahkan rangkaian Hari Ulang Tahun (HUT) ke-198 Kabupaten Lebak.

Pembukaan pameran dilakukan oleh Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Lebak, Alkadri, S.IP., M.Si. Kegiatan tersebut turut dihadiri perwakilan organisasi perangkat daerah (OPD), Balai Pelestarian Kebudayaan Banten, Museum Negeri Banten, komunitas kebudayaan, serta peserta lomba tari tingkat Kabupaten Lebak.

Lebih dari sekadar ruang pamer, kegiatan ini menjadi sarana edukasi publik untuk mendekatkan masyarakat dengan jejak sejarah dan kekayaan tradisi lokal. Melalui dokumentasi, artefak, serta peragaan keterampilan tradisional, pengunjung diajak memahami bahwa warisan budaya merupakan bagian penting dari identitas dan perjalanan panjang Kabupaten Lebak.

Pada bagian cagar budaya, pengunjung dapat melihat dokumentasi foto sejumlah peninggalan bersejarah, mulai dari bangunan eks Kewedanaan Rangkasbitung yang kini menjadi Museum Multatuli, rumah bekas Multatuli, Stasiun Rangkasbitung, hingga situs megalitikum, seperti Situs Cibedug, Situs Kosala, dan Situs Batu Bedil.

Dokumentasi tersebut memperlihatkan kekayaan sejarah Lebak yang menyimpan nilai penting bagi pengembangan pengetahuan dan pendidikan sejarah. Keberadaan bangunan bersejarah dan situs purbakala juga menjadi pengingat bahwa peninggalan masa lalu perlu dirawat dan dilindungi agar tetap dapat dipelajari oleh generasi mendatang.

Tak hanya menampilkan jejak sejarah, pameran ini juga menghadirkan lima stan Warisan Budaya Tak Benda yang menampilkan kekayaan tradisi lokal melalui peragaan langsung oleh para maestro dan pelaku budaya.

Kepala UPT Museum Multatuli Rangkasbitung, Lia Havilah, S.Pd., mengatakan lima warisan budaya yang ditampilkan meliputi Tenun Baduy, Koja, Golok Sajira, Jojorong, dan Kacapi Buhun.

Menurutnya, keterlibatan langsung para pelaku budaya memberikan pengalaman edukatif bagi pengunjung untuk mengenal lebih dekat proses pembuatan, keterampilan, serta nilai-nilai tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.

“Melalui stan-stan ini, masyarakat dapat melihat secara langsung proses dan keterampilan yang menjadi bagian dari kekayaan budaya Lebak,” ujarnya saat diwawancarai media, Senin (20/10/2026).

Lia menjelaskan, hingga 2025 Kabupaten Lebak tercatat memiliki 15 Warisan Budaya Tak Benda yang telah ditetapkan dan memperoleh sertifikat dari kementerian terkait. Sementara itu, Kolénjer yang diusulkan sebagai WBTB pada 2026 masih menunggu penerbitan sertifikat.

Ia menambahkan, penetapan suatu karya atau tradisi sebagai Warisan Budaya Tak Benda membutuhkan proses yang panjang dan terukur. Tahapannya meliputi kajian, penyusunan dokumentasi, serta pengumpulan bukti pendukung berupa foto dan video yang akurat.

Selanjutnya, usulan tersebut harus melalui tahapan persidangan di tingkat provinsi hingga kementerian sebelum memperoleh penetapan resmi. Proses tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan bahwa warisan budaya yang diusulkan memiliki data pendukung dan nilai budaya yang dapat dipertanggungjawabkan.

Melalui pameran ini, Museum Multatuli bersama Bidang Kebudayaan Disbudpar Kabupaten Lebak diharapkan mampu memperluas akses masyarakat terhadap pengetahuan sejarah sekaligus memperkuat upaya perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan kebudayaan daerah.

Pada akhirnya, pelestarian budaya tidak cukup berhenti pada dokumentasi atau penyelenggaraan pameran. Diperlukan keterlibatan pemerintah, komunitas, pelaku budaya, lembaga pendidikan, dan masyarakat luas agar warisan sejarah serta tradisi lokal tetap hidup, berkembang, dan dikenal oleh generasi berikutnya.

Pameran ini menjadi pengingat bahwa kekayaan budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan warisan bernilai yang harus dijaga bersama sebagai bagian dari jati diri dan masa depan Kabupaten Lebak.

 

(Dra)