Penulis : Muhammad Nasir
Bungas Banten, BERTANYA merupakan kewajiban jurnalis yang wajib dilakukan saat wawancara, baik dalam jumpa pers, wawancara singkat, maupun wawancara khusus yang telah direncanakan.
Tanpa pertanyaan, wawancara tidak akan mungkin dilakukan. Sebenarnya, wawancara bagi jurnalis adalah mengajukan pertanyaan untuk menggali informasi. Bagaimana jurnalis bisa mendapatkan berita jika mereka tidak bertanya?
Bertanya adalah tugas jurnalis. Siapa pun yang menghalangi tugas ini akan melanggar Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999.
Peristiwa yang dialami jurnalis CNN Indonesia, Diana Valencia, seharusnya tidak membuat jurnalis lain takut bertanya. Diana bertanya kepada Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, yang baru saja mendarat di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, setelah kembali dari kunjungan luar negeri, Sabtu, 27 September 2025, tentang isu-isu terkini di tanah air.
Pertanyaan yang diajukan Diana adalah tentang program pemerintah Makan Berggizi Gratis (MBG). Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden tampaknya tidak sependapat dengan pertanyaan Diana. Program MBG menghadapi banyak masalah, termasuk banyaknya siswa sekolah yang mengalami keracunan makanan MBG.
Begitu ada pertanyaan tentang MBG, petugas itu mengeluarkan kartu identitas reporter istana atas nama Diana.
Tindakan pencabutan identitas liputan istana dinilai pers mengganggu kemerdekaan pers.
Kepala Ruang Pers Prof. Komarudin Hidayat mengimbau semua pihak untuk menghormati kebebasan pers.
Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā * * *
DALAM pelatihan jurnalistik di Sekolah Jurnalistik Indonesia (SJI)-PWI atau pelatihan pra-tes kompetensi jurnalistik, kita senantiasa menyegarkan dan menyegarkan ingatan tentang bagaimana cara berwawancara yang baik, tekun, dan tetap kritis.
Wawancara merupakan salah satu rangkaian kegiatan jurnalistik dalam memperoleh kebenaran informasi, fakta, dan data pendukung.
Wawancara dilakukan sesuai dengan kaidah jurnalistik. Tanpa mengikuti standar jurnalisme, jurnalis akan bingung menentukan langkah saat melakukan wawancara. Wawancara tersebut bisa jadi menghasilkan informasi yang tidak lengkap dan tidak akurat.
Oleh karena itu, setiap wartawan yang akan melakukan wawancara harus mengetahui teknik wawancara agar dapat mengajukan pertanyaan kritis dan memperoleh jawaban sesuai dengan informasi yang dibutuhkan.
Dengan mengajukan pertanyaan kritis dan mengejar penjelasan tidak logis dengan pertanyaan, jurnalis tidak akan mudah tertipu, mengetahui mana yang disinformasi atau misinformasi.
Sekadar sebagai pengingat bahwa disinformasi terjadi ketika sumber dan jurnalis secara sengaja bersekongkol untuk memasukkan informasi palsu dengan tujuan menyesatkan pemahaman publik demi keuntungan pihak tertentu.
Sementara itu, misinformasi terjadi ketika jurnalis mendapatkan informasi yang salah saat wawancara atau salah memahami informasi yang diperoleh dari narasumber. Sementara jurnalis yang menyebarkannya tidak menyadari bahwa berita tersebut salah.
Persiapan Wawancara
1. Sebelum melakukan wawancara, cari tahu latar belakang orang yang akan diwawancarai dan latar belakang tema atau topik yang akan ditanyakan dalam wawancara.
2. Lakukan pencarian/penggalian seputar topik yang akan ditanyakan melalui berbagai dokumentasi.
3. Pikirkan sudut pandang berita apa yang akan dibuat setelah wawancara. Kutipan yang kuat dari narasumberlah yang dibutuhkan. Jika perlu, judul berita yang akan dibuat sudah dibayangkan. Dan, format atau jenis berita apa yang ingin Anda gunakan.
4. Siapkan pertanyaan, baik yang ringan maupun yang berat. Pertanyaan berat biasanya diberikan pada urutan terakhir.
5. Fakta, data, atau statistik apa yang dibutuhkan pewawancara? Hal ini juga diperlukan saat berita akan disertai infografis.
6. Pertimbangkan juga untuk melakukan streaming foto dan video jika diperlukan.
” Setelah persiapan selesai, kita perlu melihat apakah format wawancaranya dilakukan secara terbuka, didengar oleh publik secara langsung, seperti wawancara di radio dan televisi, wawancara empat mata secara tertutup, dan wawancara dari rumah ke rumah.
1. Jika wawancara dilakukan secara terbuka, persiapkan fisik, kebugaran, suara, dan pakaian yang sesuai (untuk radio/TV). Namun, Anda tetap harus menguasai topik dan mengenal audiens. Perhatikan durasi wawancara yang tersedia, serta pelatihan bahasa lisan yang baik dan jelas.
2. Wawancara tertutup di dalam ruangan, biasanya berlangsung lebih intim dan menggali banyak informasi secara mendalam, karena waktu yang tersedia biasanya relatif lama. Semuanya dilakukan sesuai rencana.
3. Wawancara singkat biasanya dilakukan ketika narasumber baru saja meninggalkan ruangan. Biasanya pewawancara sudah memiliki materi berita, tetapi membutuhkan konfirmasi atau penjelasan tambahan. Tentu saja, waktunya cukup singkat.
Mulai Wawancara:
Sebelum wawancara perlu disadari bahwa kegiatan pewawancara adalah berbicara, bertanya, mendengarkan, mengingat, menggali, mengkritik, merekonstruksi hingga menuliskan suatu peristiwa.
1. Beberapa menit sebelum wawancara, mulailah berbasa-basi atau mengobrol ringan agar tidak tegang. Kemudian, perkenalkan wawancara secara singkat dan sesuai topik.
2. Sampaikan pertanyaan-pertanyaan yang jelas, sesuai yang sudah disiapkan. Ada dua model pertanyaan open-ended question untuk mendapatkan jawaban panjang. Pertanyaan ini diawali dengan apa, mengapa, dan bagaimana. Misalnya, apa yang terjadi? Mengapa kau lakukan itu? atau bagaimana semua itu bisa terjadi? Model pertanyaan berikutnya closed-ended questions untuk memperoleh jawaban singkat, nama, titel, ya atau tidak. Pertanyaan ini diawali dengan siapa, di mana, kapan. Misalnya, kapan peristiwa terjadi? Siapa yang terlibat dalam kejadian itu? Pertanyaan berikutnya kejar sampai memperoleh jawaban 5W+1H dengan meyakinkan.
3. Mintalah data tertulis berupa angka-angka atau keterangan untuk mendukung akurasi berita.
4. Kontrol arah pembicaraan narasumber. Kalau penjelasan bertele-tele, biarkan jangan dipotong sampai pembicaraan berhenti sementara. Langsung disusul pertanyaan berikutnya.
5. Ketika mencatat jawaban narasumber, jangan biarkan mata selalu tertuju pada kertas catatan. Berlatihlah mencatat tanpa melihat buku catatan atau block-note, lalu mata arahkan pada mata narasumber (kontak mata). Dengan demikian, pewawancara menghargai dan memperhatikan narasumber.
6. Jangan takut dianggap bodoh sehingga takut bertanya. Wartawan muda biasanya takut mengajukan pertanyaan yang dianggap terlalu sederhana, karena takut dibilang bodoh. Sampaikan saja bahwa Anda belum paham dan minta dijelaskan lebih detail. Jangan takut bertanya, wartawan yang paham banyak mengenai topik yang sedang dibicarakan juga tetap harus bertanya kepada narasumber untuk bahan tulisan. Tidak mungkin dia bicara sendiri dan ditulis sendiri. Kalau wartawan takut bertanya, dia nanti tidak bisa menjelaskan beritanya pada pembaca. Yang perlu diperhatikanĀ juga jangan menunjukkan diri paling pintar atau sok pintar.
7. Mem-verifikasi. Tanyakan pertanyaan sesuatu yang sudah anda ketahui jawabannya. Anda perlu mengutip apa yang dikatakan oleh narasumber, bukan oleh pewawancara sendiri. Perlu juga diperhatikan, kalau narasumber menyebut nama orang lain, anda haru mengecek orang yang disebut namanya.
8. Catat dan minta dieja untuk penyebutan nama atau kata yangĀ belum jelas penulisannya.
9. Hargai off the record. Tetapi jangan menerima begitu saja. Pewawancara harus menjelaskan maksud penulisan materi yang dinyatakan off the record. Begitu pula ketika narasumber minta tidak disebutkan namanya, jelaskan maksud dan tujuan penulisan nama narasumber. Jelaskan bahwa wartawan tidak bisa menulis sumber tanpa nama. Bila perlu jelaskan mulai awal wawancara. Kalau narasumber tetap ngotot, berunding lah bagaimana menyebut namanya secara aman.
10. Jaga sensitivitas, apakah pertanyaan mengarah ke pribadi atau tetap untuk kepentingan umum. Pertanyaan yang bersifat pribadi sebaiknya dihindari.
11. Mintalah nomor telepon narasumber untuk meminta penjelasan apabila ada penjelasan yang masih belum jelas. (***)
Penulis adalah jurnalis senior yang bekerja di Harian Kompas (1989-2018).
Anggota Forum Wartawan Nasional (FWK), aktif di Kelompok Kerja Komisi Pendidikan, Pelatihan, dan Pengembangan Profesi Kamar Pers (2022-Mei 2025)
Referensi : Jurnalisme, Berita Palsu & Disinformasi, Buku Pegangan Pendidikan dan Pelatihan Jurnalisme, (UNESCO), dan Menulis dan Melaporkan Berita, Metode Pembinaan, Wadsworth Chengage Learning, 2010.







