MUI : Insya Allah 145 Titik Pengamatan Pastikan Awal Ramadhan Serentak

Nasional, Ragam86 Dilihat
Example 1500x60

Bungas Banten, JAKARTA –  Majelis Ulama Indonesia (MUI) optimistis bahwa awal Ramadhan 1446 H dapat ditetapkan secara serentak di Indonesia. ” Sidang isbat akan digelar pada Jum’at 28 Februari 2025, dengan melibatkan 145 titik pengamatan hilal di seluruh Indonesia untuk memastikan tercapainya kesepakatan nasional.

Ketua MUI Bidang Pendidikan dan Kaderisasi, KH Abdullah Zaidi, menyatakan bahwa sidang isbat akan menentukan kapan umat Islam di Indonesia memulai ibadah puasa Ramadhan.

Example 1500x60
Example 1500x60

“Insya Allah, dengan adanya 145 titik pengamatan hilal yang tersebar di berbagai wilayah, kita bisa serentak awal Ramadhan. Mudah-mudahan hasil pengamatan ini dapat menyatukan kita dalam menjalankan ibadah puasa,” ujar KH Abdullah Zaidi di Kantor MUI Pusat, Jakarta pada Selasa (25 Februari 2025)

Sidang Isbat dan Harapan Kesepakatan Nasional

Sidang isbat akan diselenggarakan oleh Kementerian Agama dan dihadiri oleh perwakilan MUI, ormas Islam, ahli astronomi, serta tim pemantau hilal dari berbagai daerah.

Menurut KH Abdullah Zaidi, keputusan sidang isbat berdasarkan hasil rukyatul hilal (pengamatan hilal) di seluruh Indonesia. Apabila hilal terlihat di salah satu titik pengamatan, maka 1 Ramadhan akan dimulai keesokan harinya. Jika tidak, maka bulan Syaban akan digenapkan menjadi 30 hari.

“Insya Allah, kita bisa bersama-sama memulai awal puasa ini dan mengakhiri Ramadhan secara serentak. Oleh karena itu, pemantauan hilal di 145 titik menjadi kunci penting dalam penentuan 1 Ramadhan,” jelasnya.

Sementara itu, Muhammadiyah telah menetapkan awal Ramadhan musim gugur pada 1 Maret 2025 dengan menggunakan metode wujudul hilal. Muhammadiyah menetapkan bahwa hilal sudah terlihat jika ketinggiannya lebih dari 3 derajat, meskipun elongasinya hanya 6 derajat.

Meski terdapat potensi perbedaan, KH Abdullah Zaidi berharap keputusan sidang isbat dapat menghasilkan kesepakatan bersama, sehingga umat Islam dapat menjalankan ibadah puasa tanpa perbedaan di awal Ramadhan.

Ramadhan sebagai Momentum Perkuat Ibadah dan Kesalehan Sosial

Selain penetapan awal Ramadhan, MUI mengajak umat Islam menjadikan bulan suci ini sebagai momentum memperkuat ibadah dan meningkatkan kepedulian sosial.

“Ramadhan bukan hanya soal menahan lapar dan haus, tapi juga kesempatan untuk memperbanyak ibadah, sedekah, serta mempererat persaudaraan sesama umat Islam,” kata KH Abdullah Zaidi.

Ia menekankan bahwa keseimbangan antara ibadah pribadi dan kesalehan sosial harus menjadi perhatian utama umat Islam selama Ramadhan.

“Yang pertama adalah bagaimana kita meningkatkan kesalehan ibadah, dan yang kedua, kita harus mengupayakan kesalehan sosial. Rasulullah SAW bersabda, ‘Sebaik-baik sedekah adalah sedekah di bulan Ramadhan’,” tuturnya. (lnilahcom)

REPORTER : RED

Example 1500x60
Example 1500x60
Example 1500x60