Bocah 7 Tahun Positif DBD, Keluarga Pertanyakan Penanganan Awal di Puskesmas Warunggunung

Lebak110 Dilihat
Example 1500x60

Bungas Banten, LEBAK – Penanganan awal terhadap seorang bocah berinisial DF (7), warga Kampung Cipasung, Desa Sukarendah, Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak, Banten, menjadi sorotan setelah anak tersebut kemudian dinyatakan terjangkit Demam Berdarah Dengue (DBD).

DF menjalani pemeriksaan darah di salah satu klinik di Kecamatan Kalanganyar pada Senin (21/9/2026). Hasil pemeriksaan menunjukkan DF terjangkit DBD setelah sebelumnya mengalami demam tinggi yang disebut mencapai sekitar 40 derajat Celsius, disertai kondisi mengigau hingga sempat tidak sadarkan diri.

Persoalan tersebut mencuat karena beberapa hari sebelumnya DF telah dibawa keluarganya ke Puskesmas Warunggunung pada sekitar pukul 01.30 WIB. Keluarga mengaku saat itu berharap anaknya mendapatkan penanganan medis karena kondisi yang dinilai cukup mengkhawatirkan.

Namun, menurut keterangan orang tua DF, EN, setelah diperiksa petugas, keluarga diminta kembali ke rumah karena kondisi DF disebut hanya mengalami demam biasa.

«“Setelah saya konsultasi dengan suami, suami bilang Suryadi, bawa ke Puskesmas Warunggunung. Setelah di Puskesmas Warunggunung, petugas yang piket bilang ini hanya demam biasa dan wajar kalau panasnya turun naik. Saya sama anak saya disuruh pulang lagi ke rumah,” ujar EN saat ditemui di rumahnya, Senin (21/9/2026).»

Keputusan tersebut kemudian menjadi pertanyaan keluarga setelah kondisi DF tidak kunjung membaik.

Setibanya di rumah, keluarga meminta bantuan seorang mantri untuk memberikan perawatan. DF disebut mendapatkan infus dan sempat mengalami penurunan suhu tubuh.

Namun, kondisi tersebut kembali memburuk pada hari berikutnya. DF kembali mengalami demam dan tubuhnya menjadi lemas.

“Setelah itu keesokan harinya saya menyuruh mantri datang ke rumah. Anak saya dirawat di rumah dan diinfus. Terus terang saya kecewa dengan pelayanan di Puskesmas Warunggunung. Alhamdulillah panasnya saat itu turun, tetapi keesokan harinya anak saya malah panas dan lemas lagi,” ungkap EN.

Kekhawatiran keluarga akhirnya mendorong DF dibawa ke sebuah klinik di Kecamatan Kalanganyar. EN meminta dilakukan pemeriksaan darah untuk mengetahui penyebab kondisi anaknya yang kembali memburuk.

Hasil pemeriksaan justru mengungkap bahwa DF terjangkit DBD.

“Saya minta dilakukan cek darah. Saya kaget ternyata anak saya terkena penyakit DBD,” katanya.

Keluarga Pertanyakan Penanganan Awal

Bagi keluarga, persoalan utama bukan sekadar biaya pengobatan, melainkan bagaimana kondisi DF ketika pertama kali dibawa ke fasilitas kesehatan dapat ditangani secara tepat.

EN mengaku kecewa lantaran anaknya saat itu mengalami demam tinggi dan sempat tidak sadarkan diri, tetapi keluarga akhirnya kembali membawa DF ke rumah.

Di sisi lain, diperlukan penjelasan medis yang utuh mengenai hasil pemeriksaan DF saat pertama kali datang ke Puskesmas Warunggunung, termasuk kondisi klinis yang ditemukan petugas dan pertimbangan medis sebelum pasien dipulangkan.

Hal tersebut penting agar persoalan tidak berhenti pada perbedaan keterangan antara keluarga dan fasilitas kesehatan, melainkan dapat diketahui secara objektif bagaimana proses pemeriksaan dan pengambilan keputusan medis dilakukan.

BPJS Tidak Aktif, Biaya Pengobatan Ditanggung Mandiri

Persoalan lain yang turut dirasakan keluarga adalah beban biaya pengobatan. EN mengatakan kartu BPJS Kesehatan milik DF sedang tidak aktif sehingga sejumlah biaya harus ditanggung sendiri.

“Anak saya yang satu ini BPJS-nya enggak aktif dan setiap berobat harus mengeluarkan biaya. Saat dirawat di rumah saya habis Rp300.000, belum di klinik. Cek darah saja Rp120.000, konsultasi dokter Rp100.000, obat Rp90.000,” tuturnya.

Dalam situasi seperti ini, keluarga berharap terdapat perhatian dari pihak terkait agar persoalan administrasi kepesertaan tidak menjadi hambatan bagi masyarakat dalam memperoleh layanan kesehatan sesuai ketentuan yang berlaku.

Puskesmas: Ruang Perawatan Sedang Penuh

Sementara itu, seorang petugas Puskesmas Warunggunung yang meminta identitasnya tidak disebutkan memberikan penjelasan bahwa kapasitas ruang perawatan saat itu sedang penuh.

“Puskesmas Warunggunung memang punya tempat rawat inap, tetapi minggu kemarin memang sedang penuh sampai IGD. Bahkan ruang IGD atau ruang bersalin juga dipakai,” ujarnya melalui pesan yang diterima Senin (21/9/2026).

Meski demikian, pihak puskesmas disebut akan melakukan kunjungan langsung ke rumah DF untuk memastikan kondisi pasien sekaligus memeriksa lingkungan tempat tinggalnya.

“Sekarang dokter Rudi dan (Bidan) Akbar akan ke rumah, mengunjungi Daffa dan melihat kondisinya serta melihat situasi lingkungannya juga. Saat ini dokter sedang visit, mohon ditunggu,” katanya.

Langkah tersebut menjadi penting mengingat menurut pengakuan keluarga, DF bukan kali pertama mengalami DBD.

Fogging Bukan Satu-satunya Langkah

EN juga meminta agar lingkungan tempat tinggalnya mendapatkan perhatian dari petugas kesehatan, termasuk kemungkinan dilakukannya fogging.

“Saya mohon kepada pihak puskesmas untuk melakukan fogging di lingkungan rumah saya karena anak saya sudah dua kali terserang penyakit DBD ini,” katanya.

Permintaan tersebut perlu ditindaklanjuti melalui pemeriksaan epidemiologis oleh petugas kesehatan. Fogging pada prinsipnya bukan satu-satunya upaya pengendalian DBD. Pemberantasan sarang nyamuk melalui 3M Plus, pemeriksaan jentik, serta pemantauan lingkungan juga menjadi bagian penting dalam memutus rantai penularan.

Evaluasi Pelayanan Perlu Dilakukan

Kasus DF menjadi pengingat bahwa penanganan pasien dengan demam tinggi, terlebih ketika disertai kondisi yang mengkhawatirkan, membutuhkan kewaspadaan dan pemantauan yang memadai.

Penurunan demam pun tidak otomatis menandakan pasien telah terbebas dari risiko. Pada infeksi dengue, fase kritis dapat terjadi ketika demam mulai turun sehingga kondisi pasien tetap perlu dipantau secara cermat.

Karena itu, persoalan yang muncul dalam kasus DF layak menjadi bahan evaluasi bersama. Bukan untuk menghakimi tenaga kesehatan, melainkan memastikan bahwa setiap pasien, khususnya anak-anak, memperoleh penilaian medis dan tindak lanjut yang sesuai ketika datang dengan kondisi yang membutuhkan perhatian.

Publik kini menunggu hasil kunjungan dan penjelasan resmi Puskesmas Warunggunung terkait kondisi DF, termasuk kronologi pemeriksaan saat pertama kali datang serta langkah yang akan dilakukan terhadap lingkungan tempat tinggal pasien.

Kejelasan tersebut penting agar kasus ini tidak berhenti sebagai keluhan keluarga, tetapi menjadi momentum evaluasi pelayanan kesehatan sekaligus penguatan pencegahan DBD di wilayah Warunggunung.

(Dra)