Refleksi Sumpah Pemuda: Koperasi Desa Merah Putih – Solusi Rakyat atau Proyek Baru Elite Desa?

Pandeglang13 Dilihat
Example 1500x60

Bungas Banten, PANDEGLANG – Catatan Kritis: Badru Zaman – Koordinator Gerakan Anak Muda Pandeglang

Jujur saja. Di usia Sumpah Pemuda ke-98 ini, kita harus berhenti membohongi diri sendiri dengan jargon-jargon manis.

Sumpah Pemuda ke-98 bukan sekadar seremonial. Di saat kita memaknai 28 Oktober 1928-2026, kita harus jujur bertanya: Apakah semangat persatuan itu sudah diterjemahkan menjadi keadilan ekonomi di desa?

Hari ini, wajah kemiskinan di Pandeglang masih sangat nyata. Di banyak desa, ketimpangan akses ekonomi, kesenjangan kesejahteraan, dan sumber daya yang belum merata menjadi potret sehari-hari. Warga desa bekerja keras, tapi rantai distribusi dan akses modal masih dikuasai segelintir pihak. Di sinilah pertanyaan kritis itu muncul.

Program Koperasi Desa Merah Putih digadang-gadang sebagai jawaban. Secara konsep, ini adalah idealisme Sumpah Pemuda itu sendiri: gotong royong, kemandirian ekonomi, dan distribusi kesejahteraan yang adil. Koperasi seharusnya menjadi alat untuk memutus mata rantai kemiskinan struktural, menguatkan UMKM desa, dan memastikan ekonomi berputar di desa.

Namun refleksi kritis kita sebagai anak muda adalah: Apakah koperasi ini akan menjadi solusi nyata atau hanya menjadi wacana baru yang elitis?

Sumpah Pemuda mengajarkan kita bahwa perubahan tidak lahir dari diam. Masa depan desa Pandeglang ada di tangan pemuda yang berani bersuara, mengawasi, dan bergerak. Koperasi Desa Merah Putih harus kita kawal agar benar-benar menjadi jembatan dari ketimpangan menuju kesejahteraan.

Apa urgensi Koperasi Desa Merah Putih di tengah ketimpangan kemiskinan masyarakat desa kita?

Sumpah Pemuda bukan hanya tentang sejarah, tapi tentang keberanian menjawab ketimpangan hari ini.Mari kita kawal bersama agar Koperasi Desa Merah Putih benar-benar hadir untuk rakyat desa, bukan segelintir orang.

Faktanya, ketimpangan dan kemiskinan di desa-desa Pandeglang semakin menganga. Rumah reyot masih berdiri, akses modal untuk petani dan nelayan masih dicekik tengkulak, anak muda desa terpaksa merantau karena tidak ada lapangan kerja. Lalu tiba-tiba negara hadir dengan satu solusi instan bernama Koperasi Desa Merah Putih. Pertanyaannya: seberapa urgen dan seberapa siap?

Kami dari Gerakan Anak Muda Pandeglang melihat ada 5 cacat fundamental yang jika tidak dijawab, program ini hanya akan menjadi proyek mercusuar yang gagal total:

1. URGENSI PALSU, KAJIAN ASAL-ASALAN.

Di mana kajian akademis dan data kemiskinan yang komprehensif? Apakah Koperasi Desa Merah Putih dibentuk karena kebutuhan riil masyarakat desa, atau karena ambisi politik pusat yang harus dipaksakan turun ke desa? Tanpa pemetaan masalah yang jujur, koperasi ini hanya akan jadi formalitas.

2. TUMPANG TINDIH DAN MEMBUNUH YANG SUDAH ADA.

Di banyak desa, sudah ada BUMDes, sudah ada koperasi tani, kelompok nelayan, UMKM yang mati-matian berjuang hidup. Hadirnya Koperasi Desa Merah Putih tanpa roadmap yang jelas justru berpotensi mematikan ekosistem yang sudah ada. Ini bukan kolaborasi, ini kompetisi yang diciptakan negara.

3. POTENSI MENJADI BEBAN UTANG BARU BAGI DESA.

Skema permodalan yang tidak jelas, target pembentukan yang dipaksakan 80.000 koperasi se-Indonesia. Jika gagal, siapa yang menanggung utang dan kerugian? Apakah lagi-lagi APBDes dan masyarakat desa yang akan jadi korban? Jangan sampai niat mengentaskan kemiskinan justru melahirkan kemiskinan struktural baru.

4. RAWAN DIKAPITALISASI ELITE DESA.

Ini yang paling berbahaya. Tanpa mekanisme transparansi dan pengawasan yang melibatkan anak muda dan masyarakat secara langsung, koperasi ini sangat rawan dikuasai oleh elite desa, kroni kepala desa, dan aktor-aktor politik lokal. Koperasi milik rakyat, tapi dikelola segelintir orang. Sejarah sudah membuktikan, banyak koperasi mati karena korupsi di dalamnya.

5. PEMUDA HANYA DIJADIKAN STEMPEL.

Di setiap sambutan dikatakan “pemuda adalah motor penggerak”. Tapi di lapangan, pemuda tidak pernah diajak duduk merumuskan konsep, tidak diajak mengelola, hanya disuruh tepuk tangan saat launching. Jika pemuda Pandeglang tidak diberi ruang sebagai pengelola dan pengawas utama, maka program ini sudah gagal sejak awal.

Momentum Sumpah Pemuda ke-98 harus menjadi momentum perlawanan terhadap program yang tidak berpihak pada rakyat. Kami tidak anti koperasi. Kami sangat percaya koperasi adalah jalan gotong royong yang paling Pancasilais.

Tapi kami menolak jika Koperasi Desa Merah Putih hanya menjadi alat pencitraan, proyek bagi-bagi jabatan, dan formalitas laporan ke pusat tanpa dampak nyata bagi pengentasan kemiskinan.

Jika pemerintah serius, buka datanya setransparan mungkin, libatkan pemuda secara struktural bukan seremonial, dan pastikan auditnya dilakukan oleh warga.

Jangan jadikan penderitaan masyarakat desa sebagai panggung politik.

 

(Red)