Bungas Banten, SERANG – Di balik toga doktor dan capaian akademik dengan predikat sangat memuaskan, tersimpan kisah perjuangan yang penuh haru dari Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Cilegon, Dr. H. Amin Hidayat, M.Ag.
Usai resmi dikukuhkan sebagai Doktor (S3) Program Studi Manajemen Pendidikan Islam pada Sidang Senat Terbuka Wisuda Sarjana Ke-43 dan Pascasarjana Ke-29 UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Dr. H. Amin Hidayat tak mampu menyembunyikan rasa harunya. Ia berhasil menyelesaikan pendidikan doktoralnya dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,92.
Namun, di balik pencapaian akademik tersebut, terdapat sosok yang selalu menjadi sumber kekuatan dalam perjalanan hidupnya: sang ibunda.
Sesaat setelah prosesi wisuda, Amin Hidayat menghampiri ibunya yang duduk sederhana di antara para undangan. Tanpa banyak kata, ia merangkul erat dan mengecup pipi sang ibu sebagai ungkapan cinta, hormat, dan rasa terima kasih.
Momen tersebut berlangsung begitu mengharukan dan menjadi perhatian para wisudawan serta tamu undangan. Sebuah ungkapan sederhana yang ditulis untuk sang ibu seakan mewakili seluruh perjalanan hidupnya:
“TERIMA KASIH EMA SUDAH MENGHATARKAN SAMPAI HARI INI.”
Perjuangan Panjang dari Keluarga Sederhana
Bagi Amin Hidayat, gelar doktor yang diraihnya bukan semata-mata sebuah pencapaian akademik. Gelar tersebut merupakan buah dari perjalanan panjang, perjuangan, doa, dan keteguhan hati seorang ibu yang sejak awal selalu mendorongnya untuk menempuh pendidikan.
Amin mengungkapkan bahwa dirinya lahir dan tumbuh dari keluarga dengan kondisi ekonomi yang sangat sederhana. Keterbatasan tersebut justru menjadi bagian penting yang membentuk karakter dan semangatnya dalam menjalani kehidupan.
«“Saya ini lahir dari orang tidak mampu. Bisa berada di titik ini dan meraih gelar Doktor adalah buah dari doa yang tiada putus, perjuangan keras, dan keikhlasan Emak. Beliau adalah madrasah pertama dan utama bagi saya,” ungkap Dr. H. Amin Hidayat dengan penuh haru.»
Menurutnya, kondisi ekonomi keluarga pada masa lalu tidak pernah menjadi alasan bagi sang ibu untuk menyerah terhadap masa depan anaknya. Dengan segala keterbatasan yang ada, sang ibu terus memberikan dorongan agar dirinya tetap menempuh pendidikan dan berjalan di jalan kebaikan.
Bagi Amin, pendidikan bukan hanya tentang memperoleh gelar, tetapi juga tentang membangun kehidupan, memberikan manfaat, dan menjadi pribadi yang mampu memberikan kontribusi bagi masyarakat.
Dari Doa Seorang Ibu hingga Gelar Doktor
Perjalanan Amin Hidayat hingga meraih gelar doktor menjadi pengingat bahwa keberhasilan seseorang tidak selalu lahir dari kondisi yang serba mudah. Ada perjuangan panjang, doa orang tua, pengorbanan, serta ketekunan yang sering kali tidak terlihat oleh banyak orang.
Momen ketika Amin memeluk dan mencium pipi ibundanya menjadi simbol bahwa di balik keberhasilan seorang anak, sering kali terdapat sosok ibu yang tidak pernah berhenti mendoakan.
Capaian tersebut juga menjadi inspirasi bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang untuk meraih pendidikan setinggi-tingginya. Justru dari keterbatasan, semangat untuk mengubah kehidupan dapat tumbuh semakin kuat.
Menjadi Inspirasi bagi Generasi Muda
Momen haru antara Amin Hidayat dan sang ibunda mendapat perhatian hangat dari para wisudawan dan tamu yang hadir. Sikap tersebut juga mencerminkan penghormatan seorang anak kepada orang tua yang telah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya.
Setelah meraih gelar doktor, Amin berharap ilmu dan pengalaman yang diperolehnya dapat memberikan keberkahan serta manfaat yang lebih luas. Terutama dalam meningkatkan kualitas pendidikan Islam, penguatan tata kelola kelembagaan, dan pelayanan keagamaan kepada masyarakat.
Kisah Amin Hidayat dan ibundanya pada momentum wisuda tersebut pada akhirnya bukan hanya tentang gelar Doktor. Lebih dari itu, ia adalah kisah tentang doa seorang ibu, perjuangan dari keterbatasan, ketekunan dalam menempuh pendidikan, serta bakti seorang anak kepada orang tua.
Sebab, di balik toga yang dikenakan seorang doktor, ada doa seorang ibu yang mengantarkannya sampai ke titik tersebut.
REPORTER:HJ







